Cara Melawan Demam Berdarah dengan Wolbachia

Loading...

DOKTERCANTIK.COM – Ada kabar baik datang dari para peneliti Eliminate Dengue Australia, terkait dengan demam berdarah. Penyakit yang masih menjadi wabah di banyak bagian di Indonesia ini bisa dilawan dengan menggunakan wolbachia.

Apa itu wolbachia?

Wolbachia adalah sejenis bakteri yang biasa hidup pada 70 persen serangga di dunia seperti pada kupu-kupu, lalat dan lainnya. Bakteri ini dapat menghalangi terinfeksinya nyamuk oleh virus dengue sehingga pada akhirnya nyamuk tersebut tidak dapat menyebarkan virus tersebut ke manusia.

Nyamuk yang telah mengandung wolbachia pun akan hidup dalam waktu yang lebih singkat, biasanya mengurangi setengah masa hidupnya. Dengan demikian penyebaran demam berdarah pun akan menurun signifikan karena nyamuk-nyamuk yang menyebarkannya telah berkurang karena mati. Nyamuk yang mengandung wolbachia akan menghasilkan generasi nyamuk yang juga mengandung wolbachia.

Menurut hasil penelitian, bakteri ini aman bagi manusia. Wolbachia menyebabkan virus dengue tidak dapat berkembang biak di dalam tubuh nyamuk, sehingga nyamuk tersebut tidak dapat menularkan demam berdarah. Nantinya bakteri tersebut akan dimasukkan ke tubuh nyamuk yang berpotensi membawa virus dengue kemudian nyamuk tersebut dilepaskan ke pemukiman masyarakat.

Harapannya nyamuk tersebut akan berbaur dengan nyamuk lainnya  saling kawin sehingga wolbachia itu sendiri akan tersebar ke nyamuk lain. Semakin banyak nyamuk yang mengandung wolbachia akan semakin baik karena akan semakin berkurang virus dengue yang dibawa.

Penelitian tentang wolbachia

Beberapa negara tropis yang memiliki kasus demam berdarah tinggi telah mengadakan penelitian tentang bakteri ini dengan dana berasal dari Bill Gates Foundation (tempo.com, 2014). Di Indonesia, penelitian serupa digawangi oleh para peneliti dari Universitas Gadjah Mada  melalui Eliminate Dengue Project (EDP-Yogya).

Bakteri ini yang banyak ditemukan pada beberapa serangga yang umum ada di Indonesia seperti lalat buah, ngengat, kupu-kupu, capung dan di dalam tubuh aedes albopictus. Nama yang terakhir disebut justru jenis serangga yang berkerabat erat dengan aedes aegypti, si penyebab DBD itu sendiri.

Dalam situs ugm.ac.id disebutkan, peneliti utama EDP, dr. Riris Andono Ahmad, MPH., Ph.D mengatakan bahwa teknologi ini berbeda dengan pendekatan pemberantasan nyamuk yang selama ini ada, karena teknologi ini fokusnya untuk melawan virus Dengue secara langsung. Dengan demikian, pendekatan ini tidak memerlukan perlakuan berulang-ulang agar tercapai dampak penurunan kasus demam berdarah. Lagipula metode yang masih ada saat ini belum mencukupi.

Tahun 2014 ini pelepasan aegypti wolbachia dilakukan di dua lokasi, yaitu Nogotirto dan Trihanggo, Sleman.  Nyamuk dilepas secara bertahap dalam 16-24 minggu. Pelepasan dilakukan satu minggu sekali sebanyak 50 ekor nyamuk dengan jarak lepas sekitar 20 meter. Jadi, rata-rata kita melepas 2 ekor nyamuk dalam 1 meter.

Walaupun tujuannya baik, tidak sedikit protes datang dari masyarakat karena khawatir akan meningkatkan jumlah nyamuk dan membuat mereka semakin rentan terkena demam berdarah. Protes yang seharusnya akan berkurang dengan sosialisasi tentang metode dan manfaatnya.

Sekiranya dalam beberapa waktu ke depan, daerah anda dijadikan target pelepasan nyamuk berwolbachia anda tidak perlu khawatir. Di samping itu, teruskan kebiasaan baik 3 M : menguras, menutup tempat penyimpanan air dan mengubur sampah plastik seperti yang telah dikampanyekan selama ini.

Semoga bermanfaat.

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *