Mengurangi Angka Kematian Ibu Saat Melahirkan

Loading...

DOKTERCANTIK.COM – Dalam kawasan ASEAN, angka kematian Ibu saat melahirkan di  Indonesia menempati urutan ketiga. Tertinggal jauh dari Malaysia dan Singapura. Dalam sebuah peristiwa kelahiran, tentulah kita mengharapkan Ibu selamat dan anak sehat.

Pemerintah masih terus mengupayakan turunnya angka kematian ibu saat melahirkan yang bergandengan amat erat dengan program mencegah kematian anak. Masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki sambil terus melakukan upaya pencegahan.

Berikut uraiannya untuk anda.

Faktor penyebab kematian ibu saat melahirkan

Dalam pidato purnabaktinya, dimuat dalam unpad.ac.id, Prof Dinan S. Ratakoesoema dari Universitas Padjadjaran menyampaikan bahwa kematian ibu saat melahirkan dipengaruhi oleh “4 terlalu dan 3 terlambat”.

Terlalu meliputi : terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering  dan terlalu banyak melahirkan. Sedangkan terlambat meliputi : terlambat mencapai fasilitas, terlambat mendapatkan pertolongan dan terlambat mengenali tanda bahaya kehamilan dan persalinan.

Sebenarnya sekitar separuh dari kematian ibu dapat dicegah apabila ketersediaan bidan terampil mencukupi. Penyebaran bidan masih belum merata, apalagi bidan yang terampil. Masalah berikutnya adalah fasilitas medis yang belum memadai. Terkadang pasien datang tepat waktu, bidan terampil ada namun fasilitas tidak mendukung, apalagi untuk daerah kabupaten yang sering kekurangan staf dan tidak memiliki layanan 24 jam.

Belum lagi masalah anemia yang mengintai. Anemia adalah rendahnya kadar zat besi dalam darah. Hal ini sering terjadi karena wanita hamil memerlukan lebih banyak zat besi. Anemia membuat wanita yang akan melahirkan menjadi lebih rentan.

Upaya Pencegahan yang bisa dilakukan

  • Cukupi kebutuhan gizi

Gizi cukup tidak hanya menjadi urusan wanita yang sedang hamil saja, kebutuhan akan gizi harus sudah dimulai sejak masih remaja perempuan.

  • Pendidikan kesehatan reproduksi bagi remaja dan konseling pranikah untuk calon pengantin

Pendidikan kesehatan reproduksi harus dimulai dari lingkup keluarga yang dilanjutkan pada tahap pendidikan formal. Para remaja harus diberi pemahaman kapan organ reproduksinya benar-benar siap (matang). Bagi mereka yang memasuki usia dewasa ditanamkan pula pentingnya konseling pranikah dan pemeriksaan kesehatan pasangan calon pengantin

  • Hindari pernikahan dini

Menikahlah atau nikahkanlah putra-putri anda pada saat usianya telah mencukupi. Hal ini khususnya untuk mencegah keadaan hamil pada usia terlalu muda.

  • Aktif dalam Program Keluarga Berencana

Keluarga berencana tidak sekedar menentukan jumlah “dua anak cukup”. Lebih lanjut keluarga berencana akan memberikan penyuluhan tentang jarak dari satu kehamilan ke kehamilan berikutnya dan perencanaan yang berkaitan dengan keluarga sehat.

  • Rutin mengunjungi klinik pra dan pasca persalinan

Calon ibu yang secara rutin mendatangi klinik pra persalinan biasanya mengetahui langkah apa saja yang harus diambil ketika ada dalam keadaan darurat. Kemudian pemeriksaan kondisi kehamilan yang rutin akan turut memantau perkembangan calon ibu dan bayinya. Di klinik pula lah mereka dapat menerima suplemen zat besi untuk mencegah anemia. Sementara itu perawatan pasca persalinan memberi manfaat banyak bagi kesehatan anak.

  • Meningkatkan peran aktif suami

Peran suami sebagai pendamping tak kalah penting dibanding si ibu itu sendiri. Suami harus pula memahami langkah-langkah yang diperlukan menjelang melahirkan, karena semakin dekat waktu melahirkan istri biasanya panik atau merasa sakit. Intinya, tidak bisa berpikir tenang sendiri. Selain itu masyarakat secara umum juga harus berperan menciptakan lingkungan yang mendukung bagi kesehatan ibu hamil dan anak

Semoga Bermanfaat.

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *